Blog Saling Berbagi

Berpacu menjadi yang terbaik fastabiqul khoirots

Data Pribadi

    Erlisa Nurwahida Subekti, mahasiswi S1 farmasi UA '07 dan Profesi UA angkatan 98. Pertama kali saya menempati Bumi Allah 13 Nov 1989 dari Perut seorang malaikat kecilku, yang mana Allah mengutusku memanggilnya IBU Wanita yang selalu menjagaku, mendoakanku, dan memelukku saat aku hidup didunia yang penuh dengan cobaan ini Blog ini saya Hidupkan Kembali setelah pihak Univ. membuatkan Blog secara cuma cuma kepada Kami, dan Saya mengisinya dengan harapan 1. Memberi sedikit kemudahan bagi teman sejawat dalam mendapatkan Literatur "yang saya upload" 2. Memberi informasi kepada teman2 tentang hal yang saya upload 3. Berbagi IlmuNya.. :)
    JANGAN LUPA MENINGGALKAN komentar DI BLOG INI ya, UKAY!!!
    FECHAR

Z

ZZ

    3

HIV / AIDS (Terjemahan Handbook Pharmacotherapy_ Dipiro) _ Bab 38

diposting oleh erlian-ff07 pada 05 December 2011
di a. Semester 7 : Pharmacotherapy - 1 komentar

HIV / AIDS


DEFINISI

Definisi dari The Center for Disease Control and Prevention (CDC) untuk AIDS termasuk orang dengan penyakit simtomatik yang serius dan semua orang yang terinfeksi HIV dengan <200 limfosit CD4/μl atau persentase limfosit T CD4 <14% dari total limfosit. Tabel 38-1 memberikan sistem penggolongan untuk infeksi HIV dewasa dan daftar kondisi klinik sesuai definisi 1993. erlian-ff07.web.unair.ac.id

 

PATOGENESIS

-          PENULARAN HIV

Infeksi HIV terjadi melalui tiga jalur utama: seksual, parenteral, dan perinatal. Hubungan seksual, terutama hubungan anal dan vaginal, adalah jalur penularan paling umum. Kemungkinan penularan HIV dari hubungan anal adalah 0,1-3% per kontak seksual dan 0,1-0,2% per kontak seksual untuk hubungan vaginal. Secara umum, resiko meningkat ketika partner dalam stadium lanjut penyakit. Orang pada resiko tinggi untuk penularan heteroseksual termasuk mereka dengan penyakit ulser seksual, mereka yang memiliki banyak partner seksual, dan partner seksual dengan pengguna obat intravena.

  • Penggunaan jarum yang terkontaminasi atau hal lain yang terkait injeksi oleh penyalahguna obat telah menjadi sebab utama penularan parenteral dan saat ini merupakan ¼ penyebab kasus AIDS yang dilaporkan di AS.
  • Pekerja kesehatan beresiko kecil untuk tertular AIDS sewaktu bekerja, terutama melalui cedera dari jarum.
  • Infeksi perinatal, atau penularan vertikal, adalah penyebab paling umum (90%) dari infeksi AIDS pada anak. Resiko penularan ibu ke anak sekitar 25% jika tidak menyusui atau menjalani terapi antiretroviral.

 

-          SIKLUS HIDUP HIV

  • Siklus hidup HIV pada Gambar 38-1
  • HIV terikat ke limfosit CD4 melalui gp120 pada permukaan virus. RNA virus menggunakan reverse trascriptase untuk memproduksi DNA viral dan bereplikasi dalam sel yang terinfeksi.
  • Pada akhirnya, sel-sel yang terinfeksi akan hancur melalui sejumlah mekanisme termasuk lisis sel oleh virion yang baru muncul, kematian sel yang diinduksi sitotoksik dari limfosit T,pembentukan syncytia (=sel tunggal yang memiliki beberapa inti, terbentuk karena fusi sel atau pembelahan inti), atau apoptosis.

 

TAMPILAN KLINIK

  • Tampilan klinik dari infeksi HIV primer bervariasi, tapi pasien sering mempunyai sindrom viral atau kondisi seperti-mononuclei dengan demam, faringitis, dan adenopati. Sekitar 40-80% pasien akan mempunyai morbiliform atau maculopapular rash, biasanya pada trunk. Manifestasi umum lainnya termasuk diare, limfadenopati, mual, berkeringat di malam hari, dan muntah.
  • Kemungkinan memburuknya kondisi menjadi AIDS terkait muatan RNA viral; pada satu studi, laju perkembangan 5 tahun menjadi AIDS adalah 8%, 26%, 49%,dan 62% untuk jumlah RNA/ml dari <4530,4531-13.020,13.021-36.270, dan >36.270, secara berturutan.
  • Skema pembagian dari CDC membagi infeksi HV ke dalam matrik dengan sembilan kategori berdasar hitung sel CD4 (lihat “Diagnosis’) dan kondisi klinik (Tabel 38-1)
  • Kebanyakan neonatus dengan HIV tidak menunjukkan simtom. Dalam pemeriksan fisik, sering terlihat tanda fisik yang tidak bisa dijelaskan seperti limfadenopati, hepatomegali, splenomegali, sulit tumbuh dan berat badan turun atau rendahnya berat sewaktu lahir yang tidak bisa dijelaskan, dan demam yang asalnya tidak jelas. Temuan lab termasuk anemia, hipergammaglobulinemia, perubahan fungsi sel mononuklear, dan perubahan rasio sel T. Rentang normal untuk hitung CD4 pada anak berbeda dengan dewasa (Tabel 38-2).
  • HIV sendiri tidak menyebabkan hampir semua morbiditas dan mortalitas yang dihubungkan dengan AIDS. Malah, infeksi oportunis, kebanyakan disebabkan organisme yang umum di lingkungan, berperan dalam hampir 90% kematian.
  • Tampilan klinik infeksi oportunis pada “Komplikasi Infeksi HIV” berikut.

 

DIAGNOSIS

  • Metode penapisan yang paling umum digunakan untuk AIDS adalah enzyme-linked immunosorbant assay (ELISA), yang mendeteksi antibodi anti HIV-1 dan sangat sensitif dan spesifik. Positif palsu bisa terjadi pada wanita multiparous (=melahirkan lebih dari satu anak); pada pasien yang baru saja menerima vaksin hepatitis B, HIV, influenza, atau rabies; setelah menjalani banyak transfusi darah; dan mereka dengan penyakit liver, gagal ginjal, atau menjalani hemodialisis kronik. Negatif palsu bisa terjadi jika pasien baru terinfeksi dan uji dilakukan sebelum produksi antibodi bisa terdeteksi. Waktu minimum untuk terbentuknya antibodi adalah 3-4 minggu sejak paparan awal.
  • Hasil ELISA yang positif diulangi dua kali dan jika salah satu atau kedua tes reaktif, dilakukan uji konfirmasi untuk diagnosis akhir. Western blot assay adalah uji konfirmasi yang paling umum dipakai.
  • Uji muatan viral menghitung viremia dengan mengukur jumlah viral RNA. Ada empat metode yang digunakan untuk menentukan jumlah RNA HIV: reverse transcriptase-coupled polymerase chain reaction (RT-PCR), branch DNA (bDNA), nucleic acid sequence-based assay (NASBA) dan transcription-mediated amplification. Tiap assay mempunyai batas kepekaan terendah masing-masing, dan hasil bisa bervariasi dari satu metode assay ke metode lainnya; erlian-ff07.web.unair.ac.id karenanya, dianjurkan untuk menggunakan metode assay yang sama untuk pasien yang sama.
  • Muatan viral bisa digunakan sebagai faktor prognostik untuk mengawasi perkembangan penyakit dan efek perawatan.
  • Jumlah limfosit CD4 di darah merupakan penanda perkembangan penyakit. Hitung CD4 dewasa normal berkisar dari 500-1600 sel/μl atau 40-70% dari semua limfosit.

 

PERAWATAN

TUJUAN PERAWATAN

Tujuan perawatan terapi antiretroviral adalah mencapai supresi maksimal untuk replikasi HIV (level RNA HIV yang kurang dari batas bawah kuantitatif). Tujuan sekunder adalah meningkatkan limfosit CD4 dan meningkatkan kualitas hidup. Tujuan terakhir adalah menurunkan morbiditas dan mortalitas.

 

PENDEKATAN UMUM UNTUK PERAWATAN INFEKSI HIV

  • Pengukuran level plasma RNA HIV yang teratur dan hitung sel CD4 perlu untuk menentukan resiko perkembangan penyakit pada infividu yang terinfeksi HIV dan untuk menentukan kapan memulai atau merubah regimen perawatan antiretroviral.
  • Penggunaan kombinasi poten terapi antiretroviral untuk menekan replikasi HIV dibawah batas deteksi assay RNA HIV plasma membatasi potensi pemilihan varian HIV resisten-antiretroviral, faktor utama yang membatasi kemampuan obat antiretroviral untuk menginhibit replikasi virus dan menunda perkembangan penyakit.
  • Cara paling efektif untuk mendapatkan penekanan replikasi HIV adalah mulai menggunakan kombinasi obat anti HIV yang efektif  yang belum pernah digunakan pasien sebelumnya dan tidak mempunyai resistensi-silang dengan agen antiretroviral yang digunakan pasien sebelumnya.
  • Tiap obat antiretroviral yang digunakan dalam regimen terapi kombinasi sebaiknya selalu digunakan dalam dosis optimum.
  • Wanita sebaiknya menerima terapi antiretroviral optimal, apakah sedang hamil atau tidak.
  • Prinsip yang sama untuk terapi antiretroviral diterapkan pada anak dan dewasa yang terinfeksi HIV, meski penanganan anak yang terinfeksi HIV melibatkan pertimbangan farmakologi, virologi dan imunologi yang unik.
  • Orang dengan infeksi HIV primer akut sebaiknya dirawat dengan  terapi antiretroviral kombinasi untuk menekan replikasi virus sampai ke tingkat dibawah batas deteksi assay RNA HIV plasma.
  • Orang terinfeksi HIV, bahkan mereka dengan muatan viral dibawah batas deteksi, sebaiknya dianggap bisa menularkan dan dinasihati untuk menghindari hubungan seksual dan penggunaan obat IV untuk mencegah penularan HIV atau patogen lainnya.
  • Sumber untuk informasi mengenai panduan perawatan bisa ditemukan di: http://www.hivatis.org.
  • Perawatan dianjurkan untuk semua orang terinfeksi HIV dengan penyakit simtomatis atau hitung limfosit CD4 <200 sel/μl (Tabel 38-3). Perawatan bisa dipertimbangkan pada pasien dengan erlian-ff07.web.unair.ac.id hitung CD4 antara 200-350 sel/μl. Perawatan juga bisa dipertimbangkan pada individu dengan konsentrasi plasma RNA HIV >30.000 copies/ml dengan metode bDNA atau >55.000 copies/ml dengan metode RT-PCR, karena ada resiko >30% untuk mengidap AIDS dalam 3 tahun jika tidak ditangani. Banyak ahli memilih menunda terapi pada orang dengan dengan konsentrasi plasma RNA HIV <30.000 (bDNA) atau <55.000 (RT-PCR) dan sel CD4 >350 sel/μl. Tetapi, pendekatan yang lebih agresif menganjurkan perawatan jika RNA HIV >5000 copies/ml.
  • Data yang tersedia tidak memberikan ambang perawatan absolut dicapai berdasar konsentrasi plasma RNA HIV. Karenanya, pendekatan yang hati-hati yang menunda terapi untuk pasien dengan <5000 copies/ml dan menganjurkan terapi untuk pasien dengan nilai antara 5000-10000 copies/ml sama validnya dengan pendekatan agresif menganjurkan terapi pada semua pasien yang meminta dan mau menjalani pengobatan seumur hidup.

 

TERAPI FARMAKOLOGI

Agen Antiretroviral

  • Inhibisi replikasi viral dengan highly active antiretroviral theraphy (HAART) merupakan strategi klinik paling berhasil pada perawatan infeksi HIV. Ada dua grup utama obat yang digunakan: reverse transcriptase inhibitor dan protease inhibitor (Tabel 38-4).
  • Reverse transcriptase inhibitor mempunyai dua tipe: derivat purine- dan pyrimidine-based nucleosides and nucleotides (NRTI) dan mereka yang bukan berdasar nucleoside- atau nucleotide (NNRTI).
  • Interaksi obat yang signifikan bisa terjadi pada banyak agen antiretroviral:
    • Efavirenz dan nevirapine bersifat menginduksi metabolisme obat, sedangkan delavirdine dan protease inhibitor bersifat menginhibit metabolisme obat.
    • Ritonavir adalah inhibitor poten dari sitokrom P4503A dan digunakan untuk mengurangi kliren inhibitor protease lainnya.
    • Dua NRTI, zidovudine dan stavudine, saling mengantagonis metabolisme lainnya dan sebaiknya tidak diberikan bersamaan.

 

PERAWATAN SELAMA KEHAMILAN

  • Terapi selama kehamilan sangat dianjurkan, terutama dengan pengurangan penularan yang dramatis dengan monoterapi zinovudine (protokol ACTG 076). Secara umum, wanita hamil sebaiknya mendapat perawatan serupa dengan dewasa yang tidak hamil; jika mungkin, zinovudine sebaiknya digunakan untuk ibu dan bayi.

 

PROFILAKSIS PASCA PAPARAN

  • Postexposure prophylaxis (PEP) dengan regimen tiga obat terdiri dari dua nucleoside reverse transcriptase inhibitor dan protease inhibitor (indinavir atau nelfinavir) dianjurkan untuk paparan darah ke perkutan dengan resiko yang signifikan (yaitu, sejumlah besar darah atau darah dari pasien dengan AIDS stadium lanjut).
  • Dua nucleoside reverse transcriptase inhibitor bisa diajurkan ke pekerja medis dengan resiko  terpapar lebih rendah seperti yang melibatkan mukosa membran atau kulit.
  • Perawatan tidak diperlukan jika sumber paparan adalah urine atau saliva.
  • Awal perawatan yang ideal dalam 1-2 jam. Durasi perawatan optimal tidak diketahui, tapi dianjurkan terapi paling tidak 4 minggu. erlian-ff07.web.unair.ac.id
  • Pendekatan perawatan yang serupa sebaiknya dimulai untuk profilaksis setelah hubungan seksual dan setelah penggunaan obat injeksi.

 

EVALUASI HASIL TERAPI

  • Setelah dimulauinya terapi, pasien biasanya diawasi dalam interval 3 bulan dengan penilaian imunologi (yaitu, hitung CD4), virologi (RNA HIV), dan klinik.
  • Ada dua indikasi umum untuk mengganti terapi: toksisitas yang signifikan atau kegagalan terapi.
  • Kriteria spesifik untuk gagalnya terapi belum dicapai melalui suatu uji klinik terkontrol. Sebagai panduan umum, dengan kejadian berikut bisa dipertimbangkan untuk mengganti terapi:
    • Pengurangan RNA HIV kurang dari 1 log10 dalam 1 bulan setelah memulai terapi, atau gagal mencapai penekanan replikasi HIV optimal dalam 4-6 bulan.
    • Penurunan hitung sel CD4 yang bertahan atau kembali ke nilai sebelum perawatan atau suatu peningkatan pada RNA HIV 0,3-0,5 log10 copies/ml dari titik nadir.
    • Perkembangan penyakit klinik , biasanya dengan munculnya infeksi oportunis.

 

KEGAGALAN TERAPI

  • Kegagalan terapi bisa muncul dari ketidakpatuhan terhadap terapi, adanya resistensi obat, intoleransi terhadap satu atau lebih medikasi, interaksi obat dan efek samping, atau perbedaan farmakokinetik-farmakodinamik.
  • Pada umumnya, pasien yang regimen pertamanya gagal sebaiknya dirawat dengan obat dari kelas baru. Terapi sebaiknya diubah dengan paling tidak dua obat antiretroviral baru yang tidak mempunyai resistensi silang dengan agen yang sebelumnya dipakai. Tabel 38-3 memberikan beberapa regimen alternatif.
  • KOMPLIKASI INFEKSI DARI HIV
  • Terbentuknya infeksi oportunis tertentu terkait langsung atau tidak langsung dengan jumlah limfosit CD4
  • Penyakit oportunis paling umum dan frekuensi ditemukannya sebelum kematian pada pasien AIDS antara 1990-1994 adalah pneumonia karena Pneumonia cystis cariniii, 45%; kompleks Mycobacterium avium, 25%; wasting syndrome, 25%; pneumonia bakterial, 24%; penyakit cytomegalovirus (CMV), 23%; dan candidiasis, 22%.
  • Spektrum penyakit infeksi pada orang terinfeksi HIV dan terapi pilihan pertama yang dianjurkan diberikan pada Tabel 38-5.

 

PNEUMOCYSTIS CARINII

P. carinii Pneumonia (PCP) adalah infeksi oportunis paling mengancam jiwa pada pasien dengan AIDS. Taksonomi dari organisme masih belum jelas, telah digolongkan sebagai protozoa dan fungi.

Tampilan klinik

  • Simtom khusus termasuk demam dan dyspnea (=kesulitan bernafas); tanda klinik adalah tachypnea (=bernafas dengan sangat cepat), dengan atau tanpa rale (=suara desisan yang terdengar dari paru yang sakit sewaktu diperiksa menggunakan stetoskop) atau rhonchi, dan batuk tak berdahak atau sedikit berdahak. Radiograf dada bisa menunjukkan infiltrat sempurna atau terkadang bisa normal, meski infiltrat biasanya interstitial dan bilateral. Gas darah arterial bisa menunjukkan sedikit hypoxia (PaO2 80-95 mmHg) tapi pada kondisi lebih parah kelainannya bisa bermakna.
  • Onset PCP seringkali bertahap, terjadi dalam periode minggu, meski tampilan fulminan (=terjadi mendadak dan parah) bisa muncul.

Perawatan

  • Perawatan dengan trimethoprim-sulfgametoxazole (TMP/SMX atau cotromoxazole) atau pentamidine parenteral dihubungkan dengan 60-100% tingkat respon. TMP/SMX adalah regimen terpilih untuk perawatan dan profilaksis PCP pada pasien dengan atau tanpa AIDS.
  • TMP/SMX diberikan dalam dosis 15-20 mg/kg per hari (berdasar pada komponen TMP) dalam tiga sampai empat dosis terbagi untuk penanganan PCP.
  • TMP/SMX biasanya dimulai dengan rute IV, meski terapi oral (karena absorpsi oral yang tinggi) bisa memenuhi pada kondisi ringan atau untuk melengkapi terapi setelah didapat respon dengan pemberian IV.
  • Untuk perawatan PCP yang dihubungkan dengan HIV, pentamidine isethionate diberikan IV biasanya dalam dosis 4 mg/kg per hari.
  • Panjang terapi yang optimal untuk perawatan PCP dengan TMP/SMX dan pentamidine tidak diketahui, tapi 21 hari umum digunakan.
  • Efek samping yang umum terlihat dengan TMP/SMX adalah kulit kemerahan, demam, leukopeni, peningkatan serum transaminase, dan trombositopeni. Tingkat terjadinya insiden efek samping lebih tinggi pada pasien terinfeksi HIV daripada mereka yang tidak terinfeksi HIV.
  • Untuk pentamidine, efek samping termasuk hipotensi, takikardi, mulai, muntah, hipoglisemi atau hiperglisemi parah, pankreatitis, diabetes melitus ireversibel, peningkatan transaminase, nefrotoksisitas, leukopeni, dan aritmia kardia.
  • Penambahan dini terapi glukokotikoid ke regimen anti PCP telah menunjukkan menurunkan resiko kegagalan respratori dan meningkatkan keselamatan pasien dengan AIDS dan dengan PCP sedang sampai parah (PaO2 <70 mmHg atau gradient A-a >35 mmHg. Regimen yang saat ini dianjurkan adalah 40 mg prednisone oral dua kali sehari selama  hari ke-1 sampai ke-5; 40 mg sekali sehari pada hari 6-10; dan 20 mg sekali sehari pada hari 11-21, atau untuk sisa terapi. Pada umumnya, terapi glukokortikoid tambahan sebaiknya dimulai ketika terapi antipneumocystis dimulai, karena data pendukung, penggunaan glukokortikoid dimulai pada 24-72 jam pertama sejak dimulainya terapi antipneumocystis.

 

Profilaksis

  • Saat ini, profilaksis PCP dianjurkan untuk semua pasien terinfeksi AIDS yang sebelumnya pernah terkena PCP. Profilaksis juga dianjurkan untuk semua orang terinfeksi HIV dengan hitung CD4 <200 sel/μl atau sel CD4 mereka <20% dari total limfosit, atau demam yang tidak bisa dijelaskan (>1000F) selama >2 minggu, atau riwayat adanya oropharyngeal candidiasis. Pasien yang menerima profilaksis PCP yang hitung CD4-nya naik diatas 200 sel/μl karena terapi antiretroviral sebaiknya menghentikan segera menghentikan profilaksis PCP (Tabel 38-6). erlian-ff07.web.unair.ac.id
  • TMP/SMX adalah terapi yang disukai untuk profilaksis primer atau sekunder PCP pada dewasa dan remaja.
  • Dosis yang dianjurkan untuk dewasa dan remaja adalah satu tablet efek ganda sekali sehari.
  • TMP/SMX juga dianjurkan untuk profilaksis PCP pada anak. Regimen TMP/SMX yang dianjurkan (meski ada alternatif lain) adalah TMP 150 mg/m2 per hari dan SMX 750 mg/m2 per hari diberikan dalam dosis terbagi dua kali sehari, tiga kali seminggu secara berturutan (seperti, senin, selasa, rabu). Dosis harian total dari TMP/SMX pada anak sebaiknya tidak melebihi 320 mg TMP dan 1600 mg SMX.

 

TOXOPLASMA GONDII

T. gondii bisa menginfeksi semua organ tubuh dan menyebabkan infeksi akut, terutama pada otak dan mata.

Tampilan Klinik

  • Tanda dan simtom klinik dari toksoplasmosis paling sering ihubungkan dengan keterlibatan sistem saraf pusat dan, lebih jarang, paru dan mata, meski semua organ bisa terkena. Tampilan klinik seringkali termasuk demam, sakit kepala, seizure (pada sekitar 10-25% pasien), kelainan neurologis focal (di sekitar 60-90%) dan perubahan status mental.
  • Diperlukan biopsi otak untuk memastikan diagnosis dari toxoplasmic encephalitis, meski dugaan diagnosa umum dilakukan pada pasien seropositif-T. gondii dengan lesi SSP tipikal.

 

Perawatan

  • Perawatan awal untuk toksoplasmosis SSP biasanya empirik. Terapi antitoksoplasmosis biasanya dimulai pada pasien dengan AIDS yang seropositif untuk Toxoplasma, mempunyai simtom klinik dengan kecurigaan untuk toksoplasmosis, dan mempunai temuan yang khusus pada studi radiologi.
  • Kombinasi pyrimethamine dan sulfadiazine dianggap regimen paling efektif untuk terapi akut toksoplasmosis SSP terkait AIDS.
  • Dosis awal pyrimethamine 75 mg oral pada hari pertama lalu 25 mg hari berikutnya telah umum digunakan. Alternatif lain adlah dosis awal yang lebih besar, 100-200 mg siikuti dosis oral harian 1-1,5 mg/kg per hari (50-100 mg/hari).
  • Dosis lazim untuk sulfadiazine adalah 1-1,5 g tiap 6 jam (4-8 g/hari).
  • Asam folinat, dosis 10-20 mg/hari (meski dosis lebih tinggi 50 mg/hari telah digunakan) biasanya ditambahkan ke kombinasi untuk mengurangi toksisitas sumsum tulang yang diinduksi pyrimethamine.
  • Terapi akut dengan kombinasi ini sebaiknya dilanjutkan selama paling tidak 3 minggu, tapi terapi 6 minggu dianjurkan untuk pasien yang kondisinya lebih parah.
  • Kombinasi pyrimethamine plus clindamycin tampaknya kurang toksik tapi kurang efektif, daripada pyrimethamine dan sulfadiazine.
  • Penghentian pyrimethamine dan sulfadiazine setelah terapi awal yang berhasil dihubungkan dengan serangan ulang sampai 100%. Sehingga, diperlukan terapi penjagaan seumur hidup/profilaksis sekunder untuk pasien AIDS untuk mencegah serangan ulang. Regimen pyrimethamine (25-75 mg/hari dengan asam folinat) plus sulfadiazine (500-1000 mg empat kali sehari) telah dianjurkan.

 

CRYPTOCOCCUS NEOFORMANS

Infeksi cryptococcal adalah infeksi paling umum keempat pada pasien AIDS dan nfeksi fungal paling mengancam jiwa.

Tampilan Klinik

  • Tampilan klinik paling umum infeksi cryptococcal adalah meningitis. Tampilan klinik dari meningitis cryptococcal bisa nonspesifik dan tidak terpusat di SSP. Demam, sakit kepala, dan malaise adalah simtom yang paling serng muncul.
  • Metode diagnosa untuk infeksi cryptococcal termasuk uji serum dan cairan serebrospinal untuk antigen cryptococcal dan biakan fungal. Deteksi antigen cryptococcal di serum dan cairan serebrospinal adalah uji paling peka dan spesifik; titer antigen >1:8 sudah bisa dianggap sebagai infeksi.

 

Perawatan

  • Pendekatan terapi standar adalah amphotericin B untuk terapi akut dan penjagaan.
  • Fluconazole juga erlian-ff07.web.unair.ac.id efektif untuk meningitis cryptococcal; tetapi, kombinasi amphotericin B dan flucytosine paling superior.
  • Kebanyakan pasien dengan meningitis cryptococcal sebaiknya menerima amphotericin B IV paling tidak 0,5 mg/kg per hari selama minimal 2 minggu sebagai terapi akut. Flucytosine dosis 100-150 mg/kg per hari bisa dipertimbangkan menjadi kombinasi dengan aphotericin B.
  • Konsentrasi serum flucytosine sebaiknya diawasi, dan puncak dijaga dibawah 100 μg/ml untuk memperkecil efek samping hematologis.
  • Terapi penjagaan perlu untuk mencegah serangan ulang. Fluconazole adalah obat terpilih untuk mencegah serangan ulang dari meningitis cryptococcal.

 

INFEKSI MYCOBACTERIUM

Tampilan klinik

  • Sindrom klinik yang dihubungkan dengan Mycobacterium avium complex (MAC) termasuk demam yang sangat tinggi, diare, berkeringat di malam hari, malaise, berat badan turun, anemia, dan netropeni. Diare dan nyeri abdominal yang bertahan, gangguan penyerapan, dan obstruksi saluran empedu ekstrahepatik adalah manifestasi yang dihubungkan dengan infeksi MAC  di saluran cerna.
  • Diagnosa infeksi MAC biasanya berbasis biakan dari darah, meski biopsi liver, sumsum tulang, dan nodus limfoma juga sangat sensitif dan spesifik.

 

Perawatan

  • Regimen perawatan sebaiknya mengandung paling tidak dua antimikobakteria
  • Semua regimen sebaiknya mengandung salah satu dari clarithromycin atau azithromycin, dengan clarithromycin (500 mg bid) lebih disukai. Untuk agen kedua, tersedia sejumlah pilihan, meski ethambutol (15 mg/kg per hari) disukai oleh banyak ahli. Banyak klinisi yang menambahkan agen ketiga, dan beberapa, agen keempat ke regimen ini.
  • Respon klinik biasanya muncul dalam 2-8 minggu sejak dimulainya terapi. Jika respon klinik dan mikrobiologi teramati, terapi sebaiknya dilanjutkan seumur hidup.
  • Profilaksis MAC kini sangat dianjurkan untuk semua dewasa dan remaja terinfeksi HIV dengan hitung CD4 <50 sel/μl. Obat pilihan pertama adalah azithromycin (1200 mg sekali seminggu) atau clarihtomycin (500 mg bid). Rifabutin bisa menjadi alternatif.

 

INFEKSI HERVESVIRUS

HERVES SIMPLEX VIRUS (HSV)

  • Manfestasi HSV yang teramati pada orang dengan AIDS termasuk penyakit orolabial, genital, dan anorectal mukokutan; esofagitis; dan lebih jarang, encefalitis. Lesi ulser HSV lebih dari 1 bulan pada individu dengan bukti lab terinfeksi HIV, atau tanpa penyebab imunodefisiensi yang jelas, dianggap mengidap AIDS.
  • Simtom lesi anorektal, bukti klinik HSV plaing umum penyebab morbiditas pada lelaki homoseksual, termasuk nyeri, gatal, dan nyeri saat defekasi.
  • Acyclovir adalah obat terpilih untuk penyakit HSV. Untuk penyakit mukokutan ringan sampai sedang. Acyclovir oral 200 mg lima kali sehari atau 400 mg tid digunakan, meski 400 mg lima kali sehari bisa jadi diperlukan. Acyclovir intravena (15 mg/kg per hari) sebaiknya digunakan jika ada masalah absorpsi untuk obat oral, tidak bisa mentolerir pemberian oral (HSV esofagitis), atau ketika terdapat penyakit mukokutan yang parah.
  • Perawatan penyakit mukokutan sebaiknya dilanjutkan sampai semua lesi hilang.
  • Acyclovir IV (30 mg/kg per hari) sebaiknya digunakan untuk penyakit yang menyebar ke visceral dan untuk HSV ensefalitis.
  • Serangan ulang HSV sering ditangani dengan terapi penekanan dosis rendah dengan acyclovir 200 mg qid, 400 mg bid, atau 800 mg q hari.

 

Varicella Zoster Virus (VZV)

  • Zoster biasanya muncul sebagai nyeri radikular diikuti rash erithematous setempat dan vesikel (= luka melepuh yang karateristik). Zoster biasanya tetap berada di sejumlah terbatas dermatoma, tapi komplikasi seperti penyebaran ke seluruh kulit dan zoster yang menyebar ke visceral bisa terjadi.
  • Acyclovir adalah obat terpilih untuk infeksi VZV. Acyclovir oral 4 g/hari telah terlihat efektif untuk perawatan zoster pada dewasa dengan imun normal, tapi obat ini belum dievaluasi penuh pada pasien immunocompromised seperti pasien AIDS.
  • Pasien AIDS dengan zoster yang menyebar erlian-ff07.web.unair.ac.id ke kulit atau ke visceral sebaiknya menerima perawatan acyclovir IV 30 mg/kg per hari selama paling tidak 7 hari atau semua lesi hilang.

 

Cytomegalovirus (CMV)

  • Manifestasi CMV termasuk retinitis, esofagitis, hepatitis, gangguan saluran cerna, dan lebih jarang, radiculopati, ensefalitis, dan pneumonitis. Retinitis CMV biasanya dihubungkan dengan hilangnya penglihatan. Pasien awalnya mengeluh pandangan kabur, hilangnya ketajam penglihatan, atau “floaters”.
  • Terapi gancyclovir untuk CMV secara tradisional dibagi dalam dua fase--induksi dan penjagaan--karena tingginya serangan ulang setelah penghentian obat setelah berhasilnya terapi selama awal 2-3 minggu. Regimen iduksi umumnya 7,5-10 mg/kg per hari IV dalam dua atau tiga dosis yang terbagi merata selama 14 hari, atau lebih jika respon klinik yang didapat lambat. Terapi penjagaan biasanya 5-6 mg/kg sekali sehari, meski dosis 10 mg/kg telah digunakan, selama 5-7 hari/minggu untuk waktu yang tak terbatas.
  • Dosis yang dianjurkan untuk terapi penjagaan retinitis CMV dengan gancyclovir oral adalah 1000 mg tid dengan makanan.
  • Foscarnet adalah alternatif untuk gancyclovir yang tampaknya lebih tidak menyebabkan netropeni; tetapi, foscarnet mempunyai berbgai efek samping potensial, termasuk gangguan kerja ginjal dan gangguan metabolik (peningkatan dan penurunan) untuk kalsium dan fosfor.
  • Profilaksis dengan gancyclovir oral sebaiknya dipertimbangkan pada dewasa dan remaja terinfeksi HIV dengan hitung CD4 <50 sel/μl; profilaksis gancyclovir bukan merupakan standar perawatan yang dianjurkan.

(by : erlian-ff07.web.unair.ac.id ) _ sorry fren, masi acak2 an... maklum google translate :) gapapa.. semoga dapat lebih membatu, gag malah membingungkan kalian :) heh

1 Komentar

sulis

pada : 25 September 2012


"lumayan bro, cukup membantu memberi tambahan ilmu buat kami, mkasih yoo, ayo terus berkarya"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :